BioKoe

Friday, March 27, 2015

Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) PARASITOLOGI


KATA PENGANTAR



Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kepada Allah SWT, yang mana beliau telah melimpahkan rahmat dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyusun Makalah ini untuk memenuhi tugas Terstruktur dalam mata kuliah “ PARASITOLOGI ”
            Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen yang telah memberikan kami waktu untuk dapat menyelesaikan makalah ini.
            Akhirnya penulis merasa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sehat untuk perbaikan kedepannya. Namun kami berharap makalah kami ini dapat berguna bagi banyak orang dan kami khususnya. Aamiin..
Sungai Penuh,    Maret  2013


Penyusun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
BAB I : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ........................................................................................1
B.     Permasalahan ..........................................................................................
C.     Tujuan .....................................................................................................
BAB II            : PEMBAHASAN
A.    Epidemiologi Filiariasis..........................................................................3
1.      Pengertian
2.      Hospes
3.      Hosper Reservoar
4.      Vektor
B.     Occult Filiariasis.....................................................................................8
BAB III : PENUTUP
A.    Kesimpulan......................................................................................9
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................                                    

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
            Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles, Culex, Armigeres. Menurut Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kemenkes, terdapat tiga spesies cacing (vector) penyebab Filariasis yaitu: Wuchereria bancrofti; Brugia malayi; Brugia timori. Semua spesies tersebut terdapat di Indonesia, namun lebih dari 70% kasus filariasis di Indonesia disebabkan oleh Brugia malayi. Cacing tersebut hidup di kelenjar dan saluran getah bening sehingga menyebabkan kerusakan pada sistem limfatik yang dapat menimbulkan gejala akut dan kronis. Gejala akut berupa peradangan kelenjar dan saluran getah bening (adenolimfangitis) terutama di daerah pangkal paha dan ketiak tapi dapat pula di daerah lain. Gejala kronis terjadi akibat penyumbatan aliran limfe terutama di daerah yang sama dengan terjadinya peradangan dan menimbulkan gejala seperti kaki gajah (elephantiasis), dan hidrokel. Berdasarkan laporan dari kabupaten/kota, jumlah kasus kronis filariasis yang dilaporkan sampai tahun 2009 sudah sebanyak 11.914 kasus.
B.     PERMASALAHAN
  1. Merumuskan apa itu Epidemiologi Filariasis dan Occult Filariasis
  2. Mengetahui apa-apa saja penyebab filariasis
  3. Mengetahui apa-apa saja gejala filariasis
  4. Mengenal jenis parasit penyebab filariasis
C.     TUJUAN
            Makalah ini kami susun dengan tujuan agar kita mengetahui sejak dini apa itu penyakit filariasis dan apa-apa saja gejala nya, agar kita bisa mewaspadai penyakit ini sejak dini. dan agar kita semua dapat lebih memperhatikan kesehatan dan juga kebersihan lingkungan supaya kita terhindar dari penyakit ini yang mana umumnya parasit dari penyakit filariasis menyukai lingkungan yang tidak bersih.

BAB II
PEMBAHASAN

EPIDEMIOLOGI FILARIASIS DAN OCCULT FILARIASIS
A.    Epidemiologi filariasis
1.      Pengertian
            Istilah epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari Epi: atas, pada, Demos: rakyat, Logos: ilmu. Maka epidemiologi sebenarnya berarti: ”ilmu mengenai hal-hal yang terjadi pada rakyat”.
            Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit kronis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, dan dapat menyebabkan kecacatan dan stigma.
            Jadi Epidemiologi Filariasis adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat, penyebab, pengendalian dan faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi dan distribusi penyakit, kecacatan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit kaki gajah  dalam populasi manusia.
            Penyakit ini merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Filariasis disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori.
            Penyakit filariasis terutama ditemukan di daerah khatulistiwa dan merupakan masalah didaerah dataran rendah. Kadang-kadang dapat juga ditemukan didaerah bukit yang tidak terlalu tinggi. Di Indonesia penyakit ini banyak ditemukan didaerah pedesaan.
            Survey prevalensi filariasis yang dilakukan oleh departemen kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi infeksi cukup tinggi bervariasi dari 0,50/0  - 19,460/0 (P2M dan PLP, 1999). Prevalensi dapat berubah-ubah dari masa ke masa dan pada umumnya ada tendensi menurun dengan adanya kemajuan dalam pembangunan yang menyebabkan perubahan lingkungan. Untuk dapat memahami Epidemiologi Filariasis, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti hospes, hospes reserpoar, vektor dan keadaan lingkungan yang sesuai untuk menunjang kelangsungan hidup masing-masing.
2.      Hospes
            Manusia yang mengandung parasit selalu dapat menjadi sumber infeksi bagi orang lain yang rentan (suseptibel). Biasanya pendatang baru ke daerah endemi (transmigran) lebih rentan terhadap infeksi filariasis. Pada umumnya laki-laki lebih banyak yang terkena infeksi karena lebih banyak kesempatan untuk mendapat infeksi (exposure).
3.      Hospes reservoar
            Tipe B. Malayi yang dapat hidup pada hewan merupakan sumber infeksi untuk manusia. Hewan yang sering ditemukan mengandung infeksi adalah kucing dan kera terutama jenis presbytis, meskipun hewan lain mungkin juga terkena infeksi.
4.      Vektor
            Banyak spesies nyamuk telah ditemukan sebagai vektor filariasis, tergantung dari jenis cacing filarianya.
-          W. Bancrofti
            W.Bancrofti yang terdapat didaerah perkotaan ditularkan oleh Cx.quinquefasciatus yang tempat perindukannya air kotor dan tercemar.
W.bancrofti di daerah pedesaan dapat ditularkan oleh beberapa spesies nyamuk.
Gambar 1. W. Bancrofti

-          B.malayi
            B.malayi yang hidup pada manusia dan hewan biasanya ditularkan oleh berbagai spesies Mansonia yang berkembang biak di daerah rawa. B.malayi yang periodik ditularkan ditularkan oleh An. Barbirostris  yang memakai sawah sebagai tempat perindukannya.
Gambar 2. B. Malayi



-          B. Timori
            imori, spesies yang ditemukan di Indonesia sejak 1965 hingga sekarang hanya di temukan di daerah NTT dan Timor Timur, di tularkan oleh An.barbirostris yang berkembang biak di daerah sawah, di dekat pantai maupun didaerah pedalaman.

Gambar 3. B. Timori
            Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah bila orang tersebut di gigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (mikrofilaria infektif). Nyamuk tersebut mendapat larva cacing kecil (larva stadium I) sewaktu menghisap darah penderita atau binatang reservoir yang mengandung mikrofilaria.
            Siklus Penularan penyakit ini melalui dua tahap, yaitu perkembangan dalam tubuh nyamuk (sebagai vektor) dan tahap kedua perkembangan dalam tubuh manusia (sebagai hospes) dan reservoir.
B.     Occult Filariasis (Tropical Pulmonary Eosinophilia)
            Ocullt Filariasis adalah penyakit filariasis limfatik, yang di sebabkan oleh penghancuran mikrofilia dalam jumlah yang berlebihan oleh sistem kekebalan penderita. Mikrofilia dihancurkan oleh zat anti dalam tubuh hospes akibat hiper sensitivitas terhadap antigen mikrofilia. Contoh yang paling jelas adalah Tropical Pulmonary Eosinophilia (TPE)
            Gejala penyakit ini di tandai dengan hipereosinofilia, kelainan klinis yang menahun berupa pembengkakan kelenjar limfe dan gejala asma bronkial. Hipereosinofilia merupakan tanda utama dan gejala ini sering kali merupakan petunjuk kearah etiologi penyakit tersebut.
            Kelenjar yang sering terkena adalah kelenjar limfe inguinal. Kadang-kadang dapat pula terkena kelenjar limfe leher, atau kelenjar limfe ditempat lain. Bila paru terkena maka gejala klinis dapat batuk dan sesak napas, teruatama pada waktu malam. Gejala lain dapat berupa demam subfebril, pembesaran limfa dan hati.
            Mikrofilia tidak di jumpai di dalam darah, tetapi mikrofilia atau sisa-sisa nya dapat di temukan di jaringan kelenjar limfe, paru, limpa dan hati. Pada jaringan tersebut terdapat benjolan-benjolan kecil berwarna kuning kelabu dengan penampang 1-2 mm, terdiri dari infiltrasi sel eosinafil yang di kenal dengan nama benda meyers kouwenaar. Di dalam benda-benda inilah dapat di temukan sisa-sisa mikrofilia.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
            Penyakit filariasis merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Filariasis disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori.
            Manusia yang mengandung parasit selalu dapat menjadi sumber infeksi bagi orang lain yang rentan (suseptibel).
            Ocullt Filariasis adalah penyakit filariasis limfatik, yang di sebabkan oleh penghancuran mikrofilia dalam jumlah yang berlebihan oleh sistem kekebalan penderita. Mikrofilia dihancurkan oleh zat anti dalam tubuh hospes akibat hiper sensitivitas terhadap antigen mikrofilia. Contoh yang paling jelas adalah Tropical Pulmonary Eosinophilia (TPE)
            Gejala penyakit ini di tandai dengan hipereosinofilia, kelainan klinis yang menahun berupa pembengkakan kelenjar limfe dan gejala asma bronkial. Hipereosinofilia merupakan tanda utama dan gejala ini sering kali merupakan petunjuk kearah etiologi penyakit tersebut.
B.     Saran
            pemakalah menyadari sepenuhnya bahwa makalah yang “ berjudul EPIDEMIOLOGI FILARIASIS DAN OCCULT FLARIASIS“ ini masih jauh dari kesempurnaan   masih banyak terdapat kekurangan . maka dari itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sipatnya membangun demi kesempurnaan makalah kami ini .

DAFTAR PUSTAKA 
v  Susanto, Inge, dkk,(2008), PARASITOLOGI KEDOKTERAN, Jakarta :Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

No comments:

Post a Comment